Bila anda memasuki ’banking hall’ Bank Niaga, misalnya, Anda akan menjumpai personil dengan sikap yang ’seragam ’, dari satpam sampai kepala cabangnya. Bank yang menjadi pelopor ’customer focus’ tersebut sudah lama secara sadar berorientasi mencetak karyawan untuk menginternalisasikan dan saling menularkan nilai-nilai seperti integritas dan ’customer focus’, sehingga nilai-nilai tersebut terekspresikan dalam tindakan nyata, dan terasa sebagai ’budaya’ perusahaan yang khas.


Derap persaingan bisnis, tidak mengijinkan perusahaan berada dalam ’PW’ (posisi wuenak), dan menikmati budaya perusahaan yang sudah ada. Ada perusahaan atau organisasi yang ingin agar nilai integritas dihayati oleh pegawai sesegera mungkin, sehingga di mana-mana digantungkan poster yang meng-’iklan’-kan integritas. Sementara perusahaan lain, yang merasa bahwa karyawannya sudah cukup kuat menampilkan ‘compliance’, ingin agar nilai-nilai lain, misalnya ‘profesionalisme’ yang diseragamkan dan dimantapkan.


Bagaimana bila kita berada di perusahaan di mana yang menjadi ‘budaya’ adalah hal hal seperti: tidak terus terang berbicara, datang terlambat, mengambangkan masalah, tidak berkoordinasi, minim berkomunikasi, dan mentolerir kemandulan produktivitas? Dari pembicaraan di kantin seringkali kita dengar bahwa setiap individu merasa tahu persis lemahnya budaya perusahaan, tetapi ’merasa’ bahwa dirinya tidak terlibat dan terpotret. Pertanyaan yang sering diucapkan:”Kenapa, ya... di sini kebiasaannya seperti ini?”, tanpa menyadari bahwa yang dibicarakan (baca: perusahaan) adalah dirinya sendiri.


Jangan Tengok Kiri Kanan, Budaya Perusahaan = Perilaku Saya


Tindakan yang paling aman tetapi usang adalah tidak melibatkan diri sebagai unsur paling penting dalam pembentukan dan pemantapan budaya perusahaan. Padahal, dari cara berpikir, berespons, cara berbicara, dan cara memproses kita lah budaya perusahaan dicerap oleh orang luar. Budaya adalah The way we do things around here.”


Setiap karyawan modern dituntut untuk bisa merubah cara pandang dan reaksi-reaksinya sesuai dengan arah perubahan strategi perusahaan. Bila tadinya perusahaan biasa menangani pelanggan korporasi di mana kita biasa mengembangkan gaya gaul eksekutif dan sekarang perusahaan bergerak ke arah ”retail” di mana pelanggan perlu dilayani dengan lebih bersahabat dan non-formal, maka individu perlu mampu merubah sikapnya, menggulung lengan panjangnya, dan mungkin terjun ke pasar becek. Individu perlu mengembangkan kemampuan adaptasinya seperti orang yang mendengarkan musik, yaitu mencerap, menangkap iramanya, menikmati melodinya dan kemudian ikut bergoyang sesuai irama yang tengah dimainkan.



Jadilah ‘Kepala’, bukan ‘Ekor’


Mengembangkan perilaku dan kebiasaan baru memang perlu enerji ekstra. Namun, ini adalah pilihan individu, apakah ia ingin semata menjadi “batu bata” dalam membangun budaya perusahaan atau “tukang batu”-nya. Tentu saja, kita lebih baik mengambil peran proaktif dan kreatif dalam memahami, meminati, dan mengimajinasikan budaya ideal yang ingin dibangun dan kemudian menjadi pelopor dalam tim kita. Lebih baik menjadi “kepala” daripada hanya meng-“ekor” dalam pengembangan budaya perusahaan kita. Enerji lebih akan datang dari diri kita sendiri karena kita merasa bahwa kitalah pemilik dalam pengembangan budaya tersebut.


Tanda-tanda Anda sudah terlibat dan ”memiliki” perubahan justru datang bila anda mengalami konflik atau dilema. Bisa saja konflik disebabkan oleh sikap resisten teman sekelompok, bahkan atasan Anda. Bisa juga konflik ada dalam diri Anda sendiri, di mana anda ditarik oleh 2 kutub yang ingin mempertahankan kebiasaan lama atau menjalankan sikap baru dengan penuh tantangan. Dan hal yang paling penting di sini adalah tidak merasa kecut dan mundur tetapi justru memenangkan dilemanya.


Prinsip “I-WE-THEM-IT”



Dalam mengikuti pengembangan budaya perusahaan, individu selalu perlu memusatkan perubahan pada dirinya terlebih dahulu, sebelum melihat lebih jauh :



l I: Jadilah “The Super Power Can Do Man”, yang menjunjung tinggi etika kerja, kerjasama, sikap transparan dan akuntabel. Ciptakan dan ekspresikan kebiasaan dan standar respons yang mudah dikenali orang lain, dan memberi efek pada citra perusahaan.


l We: Tularkan semangat Anda ke rekan dalam tim, kemudian ke tim lain. Semangati kelompok untuk mempunyai “Esprit de Corps” yang jempolan. Jangan ragu mengemukakan saran korektif bila terlihat ada perilaku menyimpang di dalam tim anda.


l Them: Perlakukan pelanggan, baik internal maupun eksternal, dengan semangat beda dan lebih. Beri ”kesan positif” dan beri warna pada servis anda.


l It: Pandanglah perusahaan sebagai ”si dia” yang anda sayangi. Bela ”dia” sepenuh hati, dan upayakan sekuat tenaga agar perusahaan terlihat ”kinclong” dimata pihak luar.



Bukankah kita sadar bahwa tanpa manusia-nya (baca: saya), budaya hanya akan menjadi “peninggalan sejarah” belaka?

Ketika ditanyakan pada 500 orang manajer, dalam sebuah survey secara global, mengenai pemimpin macam apa yang mereka dambakan, jawaban popular yang muncul adalah: “Pemimpin yang menginspirasi.” Dari survey terpotret juga bahwa saat ini hanya 11% pemimpin yang dinilai mampu menginspirasi. Padahal, kita sangat sadar kenyataan bahwa perusahaan akan lebih mudah meraih sukses dibawah pimpinan yang menginspirasi.



Kurangnya pemimpin yang berbobot di sekitar kita, bahkan di Negara kita, memang kita rasakan benar. Padahal, dalam suasana bisnis yang kompetitif seperti sekarang ini dan Negara yang tengah dilanda berbagai bencana, tim kerja membutuhkan enerji lebih, di mana pemimpin berperan untuk senantiasa mensuplai energi pada tim dengan memberi motivasi yang sehat serta inspirasi yang tidak ada hentinya.



Inspirasi dibutuhkan dalam menghadapi berbagai tantangan organisasi, misalnya, melawan korupsi. Hanya bila pemimpin bisa memberi inspirasi yang kuat dan mengena-lah maka tim kerja bisa terdorong untuk mendukung dan mensukseskan gerakan anti korupsi. Inspirasi ini perlu sedemikian kuatnya sampai menjadi ‘api pemicu’ perubahan sikap mental, mindset dan perilaku anggota tim untuk berubah dan merubah. Inspirasi seolah energi positif yang menyebar seperti ‘mistik’. Dampaknya, tim kerja seakan rela bekerja tanpa kenal waktu dan tenaga, serta tidak hitung-hitungan.



Menginspirasi kelompok amatlah penting dan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk.. Beberapa hal yang biasa dilakukan oleh pemimpin yang inspiratif dapat di-‘benchmark’ oleh kita:



“Customer focused”


Apakah dia seorang menteri, pimpinan organisasi, atau direktur, seorang pemimpin harus berfokus pada ’pelanggan’ dan tahu persis apa kebutuhan pelanggannya. Pemimpin yang tidak menyadari siapa pelanggannya akan tetap menjadi pemimpin yang berada di “awang awang”, gambaran visinya “mengambang”, bicaranya sulit dimengerti bawahan karena tidak jelas ke mana arahnya. Pemimpin yang bahkan “stakeholder focused” mampu bersikap direktif, tahu persis apa yang perlu ditanyakan bila bertemu atasan, bawahan, dan pihak eksternal. Iapun otomatis akan menghilangkan sikap “bossy” dan birokratis, karena setiap perilakunya didasarkan pada pelayanan pelanggan.



Keluar dari Meja Kerja


Tak ada dalam sejarah pemimpin inspiratif menggerakkan tim dari balik meja kerjanya. Mahatma Gandhi, Winston Churchill, George Patton, Mother Teresa adalah orang-orang lapangan. Menginspirasi memang lebih mudah dilakukan dari tengah-tengah tim. Hubungan informal dan kontak personal sangat berpengaruh pada mental bawahan. Mungkin itu juga sebabnya, mengapa Agus Marto, dirut Bank Mandiri, membuka pintu rumah dan HP-nya buat semua orang yang membutuhkan berkoordinasi dengannya.



Sadari Peta Kekuatan Karyawan


Hanya pemimpin yang sadar akan kapasitas sumber dayanya-lah yang bisa mengajak orang di sekitarnya untuk berupaya lebih dan membuat nilai tambah. Hal ini juga yang memungkinkan pemimpin untuk memotivasi bawahan secara personal, sesuai dengan kekuatan dan kekhasan bawahannya. Bawahan akan merasa “terangkat” dan seolah “superman” yang merasa mampu berbuat lebih. Pemimpin yang inspiratif membuat bawahannya menghargai dirinya sendiri seperti halnya ia menghargai perusahaan dan pelanggannya.



Dengan mengenali kekhasan bawahan, pemimpin yang inspiratif bisa menjadi lebih dari sekedar “coach” yang baik, namun ia juga membimbing bawahan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, kemudian memberikan pengarahan dari jalan keluar, juga prinsip professional dari solusi permasalahan, bahkan sampai filosofinya.



Bermainlah Pada Level Emosional



Ketika sesekali saya tanyakan kepada beberapa bawahan yang sangat setia kepada atasannya, padahal bisnis sedang merosot, maka jawaban mereka sekedar, ”Dengan Bapak, kita selalu bersama-sama, terlambat makan sama-sama, makan enak sama-sama.” Alasan emosional inilah yang tampak lebih solid daripada sekedar hubungan finansial. Upah memang menentukan kepuasan kerja, namun pemimpin besar biasanya kreatif dalam menemukan cara yang tidak biasa dalam memenuhi kebutuhan bawahannya, yaitu mempertimbangkan faktor-faktor di luar kebutuhan yang basic, seperti respek dan prestis, untuk bisa mengangkat semangat timnya dengan lebih baik.



Passion yang Berbuah Vision


Perkembangan teknologi serta globalisasi membuka kesempatan yang jumlahnya tidak berbatas dan memberi kesempatan untuk para pemimpin lebih asik, lebih passionate dalam mencermati minat dan sasarannya. Hal ini juga yang mempermudah para pemimpin untuk menggambarkan visinya dengan kata kata, deskripsi dan imajinasi yang lebih mudah dimengerti bawahan. Tidak sulit bagi pemimpin sekarang menggambarkan visi se-menggelegar “I have a dream…”-nya Martin Luther King. Passion jugalah yang membuat pemimpin insipratif tidak sekedar memikirkan "what``s in it for me" tetapi berobsesi pada “big idea”-nya.

Kelimpungan membagi waktu dalam pekerjaan?
Beberapa hasil pekerjaan menjadi tidak memuaskan karena konsentrasi terbagi pada beberapa tugas lain?
Merasa lelah dan tidak berdaya karena tidak bisa menolak tugas?
Kehilangan dokumen penting saat sangat dibutuhkannya?

Bila satu jawaban dari pertanyaan di atas adalah “Ya” ada tips yang harus dikuasai dalam mengelola waktu.

Sering sekali kita merasa kewalahan oleh pembagian waktu. Merasa tidak berdaya karena waktu begitu terbatas sedangkan tugas begitu banyak sehingga kita merasa menjadi korban dari sempitnya waktu. Siapakah sebetulnya yang memegang kendali atas waktu? Betul kita tidak dapat membuat waktu menjadi berhenti, memperlambat atau mempercepat waktu. Kabar baiknya, kesibukan kita adalah pilihan kita. Pilihan kita adalah:

· apa yang mau kita kerjakan sekarang
· apa yang mau kita kerjakan nanti
· siapa yang dapat kita delegasikan
· apa yang dapat kita abaikan

Mengelola waktu sangat berhubungan dengan persepsi kita terhadap tentang waktu. Bila Anda merasa waktu berada di tangan Anda untuk dikendalikan, maka jawaban atasu pilihan-pilihan ini menjadi jelas. Perlu kejujuran untuk menjawab pilihan tersebut. Untuk membantu kita menjadi jujur dalam membuat prioritas maka periksa dengan teliti satiap aktivitas yang tertulis pada agenda Anda. Apakah aktivitas tersebut pantas menjadi prioritas atau dapat dilakukan nanti, dapat didelegasikan atau bahkan perlu diabaikan.

Alat periksa suatu aktivitas sebelum menjadi prioritas adalah:
- Aktivitas tersebut membantu mencapai tujuan sesuai visi hidup Anda,
- Aktivitas itu membantu meraih sukses pribadi dan organisasi
- Aktivitas itu memperkaya hidup
- Aktivitas itu akan sangat disesali kalau tidak dicapai

Setelah memeriksa setiap aktivitas, tentukan waktu yang paling optimal bagi kita. Kita -manusia di dunia ini- terbagi dua, antara manusia pagi (morning person) dan manusia malam (late person). Bila kita ingat-ingat, ada jam-jam kita berpikir dengan prima. Mengingat, menghitung, menganalisa dengan baik. Bisa pagi hari atau sore, bahkan malam bagi sebagian orang. Kenali kebiasaan kita selama ini. Jika waktu prima itu di pagi hari, siapkan meeting penting di pagi hari, dan gunakan waktu menyelesaikan tugas-tugas rutin di sore hari.

Setelah mendapatkan daftar aktivitas setiap hari dan memisahkan aktivitas yang menjadi prioritas Anda, kenali beberapa gangguan yang mengurangi waktu Anda saat melakukan aktivitas yang menjadi prioritas. Hal itu dapat berupa mencari benda-benda kecil seperti staples, klip kertas, nomor telpon rekan bisnis atau klien. Atasi keadaan ini dengan meluangkan waktu merapikan dokumen dan meja kerja Anda. Lakukan pemisahan antara file aktif dan file yang ‘kalau-kalau perlu’. Buat catatan nomor telpon penting di tempat yang mudah diakses, simpan semua benda pada tempatnya, kembalikan semua benda pada tempatnya segera setelah menggunakannya dan singkirkan semua benda yang belum perlu untuk pekerjaan saat ini.

Intinya, mengelola waktu berkaitan langsung dengan mengelola diri sendiri, mengelola tugas dan mengelola orang lain. Ketika waktu sudah dapat kita kelola dengan baik, kita menjadi efisien dan produktif.

Mempunyai beberapa pekerjaan sekaligus ? Harus mengerjakan tugas yang menuntut keahlian profesi yang berbeda ? Banyak tugas rangkap sehingga harus lapor ke lebih dari satu atasan ? Mungkinkah ? Apa resikonya dan bagaimana menyikapinya jika kita menghadapi kondisi semacam ini ?


Mengapa Harus Punya ‘banyak’ Pekerjaan ?


Mungkin kita bertanya-tanya, bagaimana mungkin menjalani beberapa pekerjaan bila saat ini kita sudah sangat kelelahan dengan satu pekerjaan saja. Banyak orang akan berpikir dua kali untuk mengatakan ‘ya’ jika ditawari pekerjaan lain yang sama-sama menyita waktu. Jika menyatakan setuju, berarti perlu memberikan upaya ekstra untuk menuntaskan seluruh pekerjaan.


Namun jika diperhatikan, kondisi semacam ini semakin banyak dialami oleh karyawan, termasuk kita sendiri. Jenis pekerjaan yang beragam dengan deadline yang ketat, keterlibatan kita pada beberapa proyek kerja sekaligus, atau bahkan harus menjalankan beberapa tugas yang menuntut keahlian yang sebenarnya bukan profesi utama kita.


Tampaknya sekalipun lebih berat, banyak orang tetap mampu menangani berbagai jenis pekerjaan semacam ini, bahkan secara sengaja mencari kesempatan untuk mengerjakan hal-hal lain di luar rutinitasnya. Dengan terlibat dalam proyek lintas departemen misalnya, seseorang otomatis akan mempunyai tanggung jawab lebih besar. Beban kerjanya jelas bertambah, dan mungkin ia juga harus mempertanggungjawabkan hasil kerja kepada ‘atasan kedua ‘(dimana standar penilaiannya juga bisa berbeda), dan ia juga dituntut untuk belajar hal-hal baru. Sungguh hal yang tidak mudah, namun mengapa justru kondisi pekerjaan semacam ini menarik bagi sebagian orang ?


a. Memacu Motivasi Pribadi


Banyak orang merasa puas apabila berhasil menangani tugas yang lebih banyak dan lebih beragam, selama seimbang dengan pengakuan yang diberikan perusahaan atau atasannya. Kondisi yang rutin atau monoton bagi sebagian orang dianggap tidak menantang, dan akan menurunkan semangat kerja. Dengan keberhasilan yang diraih, motivasi seseorang juga akan semakin bertambah.


b. Menambah Kompetensi


Dengan bertambahnya ragam pekerjaan, otomatis mendorong karyawan untuk belajar lebih banyak hal baru, yang akan menambah pengetahuan atau ketrampilannya. Kompetensi terus terasah seiring dengan intensitas dan kompleksitas tugas yang diemban, dan hal ini merupakan salah satu alasan orang mencari ‘pengayaan’ dalam pekerjaan, atau lebih dikenal dengan ‘job enrichment’.


c. Menambah Jaringan Relasi


Keterlibatan dalam beberapa proyek atau tugas terkadang menuntut interaksi yang lebih luas daripada sekedar bekerja rutin. Perluasan relasi juga bisa menjadi alasan mengapa seseorang bekerja lebih keras, apalagi jika dari sini ia bisa mendapatkan pengakuan sosial yang lebih baik.


d. Memanfaatkan Kesempatan Selagi Bisa


‘Kesempatan tidak datang dua kali’ adalah ungkapan yang sering kita dengar. Tidak banyak orang ditawarkan kesempatan untuk mendapatkan variasi tugas, atau kesempatan untuk mendapat pengakuan yang lebih besar seiring dengan beban yang bertambah. Begitu ada tawaran, mengapa tidak dicoba saja ?


e. Kuntungan Finansial


Tidak semua penambahan beban kerja diiringi dengan peningkatan pendapatan, walau kadang kita bisa saja mendapatkan bonus atas keberhasilan yang diperoleh. Namun sejalan dengan bertambahnya keahlian dan pengalaman, setiap orang berharap bisa memperoleh penghargaan yang lebih tinggi di waktu mendatang. Walaupun tidak selalu mengutamakan materi, peningkatan pendapatan seringkali diharapkan oleh sebagian besar orang yang bekerja.


Tanpa memikirkan segi keuntungan dan kerugian memiliki beban kerja yang beragam, dewasa ini, istilah ‘multitasks’ memang sudah menjadi hal yang umum dibicarakan orang di lingkungan pekerjaan. Bahkan jarang sekali perusahaan memberdayakan karyawannya hanya untuk satu jenis tugas saja. Tidak heran jika proses seleksi atau rekrutmen karyawan kadang menjadi tampak rumit, karena karyawan tidak hanya dituntut untuk bisa tampil optimal di pekerjaan saat ini, namun juga potensial untuk dikembangkan ke tugas lain yang lebih kompleks nantinya. Tuntutan ini sejalan dengan harapan berkembangnya perusahaan di masa depan.


Sekalipun sudah umum diberlakukan di berbagai perusahaan, sistem kerja multitasks ini tetap perlu dicermati resiko atau konsekuensinya. Tidak semua orang siap dibebankan sistem kerja semacam ini, sehingga penting bagi kita untuk bisa mengantisipasinya agar seluruh pekerjaan tetap berhasil dengan baik.


Apa Saja Resiko Yang Mungkin Terjadi ?


a. Penilaian Tidak Jelas


Tidak adanya target dan standar penilaian yang jelas karena tugas yang beragam, apalagi jika peran kita tidak secara spesifik ditetapkan di awal, pada akhirnya hanya akan menimbulkan kelelahan dan ketidakpuasan. Pada dasarnya kita tetap butuh pengakuan dan penilaian yang jelas sesuai usaha yang kita keluarkan.


b. Sulit Menetapkan Prioritas


Makin banyak tugas, seringkali kita bingung menentukan mana yang harus didahulukan, karena semua pihak menuntut hasil yang cepat dan baik. Kita cenderung bekerja serabutan sesuai tuntutan yang datang, dan hasilnya pun cenderung tidak tuntas.


c. Koordinasi Tim Kerja Kurang Lancar


Dengan makin banyak koordinasi dengan pihak lain, komunikasi mutlak diperlukan. Perbedaan standar dan persepsi seringkali terjadi, baik antar anggota tim maupun dengan atasan dari masing-masing pekerjaan. Kemungkinan tugas menjadi ‘overlapping’ pun bisa terjadi. Tanpa komunikasi yang baik, akan sulit mendapatkan hasil yang maksimal dan akhirnya justru menimbulkan ketidakpuasan bagi masing-masing pihak.


d. Beban Kerja Tidak Realistis


Apabila kemampuan atau energi yang dimiliki tidak sebanding dengan beban yang diberikan, tentunya usaha untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan akan sangat besar. Jika beban kerja tidak realistis, pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas keseluruhan. Keberhasilan yang dicapai juga belum tentu akan bertahan lama karena setelah itu pasti akan ada lagi tuntutan yang lebih besar.


e. Stress Berlebihan


Setiap pekerjaan mempunyai target dan deadline, dan apabila tidak bisa ditangani dengan baik maka seseorang akan selalu kehabisan waktu dan tidak bisa merasakan kesenangan dari pekerjaannya. Perasaan cemas atau kekhawatiran yang berlebihan bisa menimbulkan stress, sehingga pada akhirnya pengayaan pekerjaan tersebut tidak lagi memberikan manfaat.


f. Kehabisan Waktu Untuk Pribadi


Masih terkait dengan soal waktu, tidak jarang orang menyalahkan pekerjaan sebagai hal yang menyita waktu pribadi mereka, akibat dari ketidakmampuan mengatur prioritas dan waktunya. Tidak adanya keseimbangan antara kehidupan kerja dengan pribadi tentunya akan memberikan dampak kurang baik untuk kehidupan jangka panjang seseorang.


Begitu banyak konsekuensi apabila kita tidak bisa menyikapi beban kerja yang beragam semacam itu. Sebetulnya, ada cara jitu agar hal-hal tersebut di atas tidak sampai terjadi.


Langkah-langkah Mengantisipasi Konsekuensi Negatif


a. Perjelas target & standar yg diharapkan


Untuk setiap tugas yang diberikan, pastikan kriteria keberhasilan atau standar yang diinginkan untuk mengetahui hasil kerja kita sudah sesuai atau belum. Dengan begitu, kita bisa memperkirakan strategi kerja dan menyesuaikan usaha (effort) untuk mencapainya nanti. Kita pun bisa mengevaluasi kinerja kita sendiri secara lebih spesifik. Selain itu, akan lebih mudah bagi kita untuk mengklarifikasi jika ada masalah atau situasi kerja yang tumpang tindih dengan pihak lain.


b. Tetapkan prioritas pekerjaan / profesi yang dijalani


Dengan target yang banyak, akan sulit memenuhi semuanya secara bersamaan atau dengan kualitas yang sama sempurnanya. Pastikan prioritas masing-masing tugas. Jika standar harapan atasan sudah jelas, kita juga bisa menentukan bobot kontribusi kita dan menegaskan seberapa besar komitmen kita terhadap setiap pekerjaan. Bertindaklah realistis. Meskipun kita ingin menguasai banyak hal, dianjurkan untuk tetap memiliki fokus utama kerja daripada mengambil seluruh tanggung jawab secara sama besarnya.


c. Komunikasikan kesanggupan kepada atasan atau tim kerja


Untuk setiap target kerja, bicarakan kesanggupan kita secara terbuka kepada si pemberi tugas, atasan atau rekan satu tim. Jika dirasa tidak realistis, negosiasikan deadline atau standar kualitas yang diminta, agar kualitas kerja keseluruhan tetap terjaga. Jangan takut terlihat tidak mampu, karena yang bisa mengukur kemampuan kita adalah kita sendiri.


d. Buat target-target & jadual kerja jangka pendek


Selalu merasa kehabisan waktu ? Mungkin kita belum mengelola waktu dengan tepat. Buatlah target-target jangka pendek, dimana dari sini kita bisa menghitung beban harian, juga mengetahui realistis tidaknya suatu pekerjaan. Selain itu kita bisa mengantisipasi masalah yang mungkin muncul.


e. Alokasikan beban kerja tertentu kepada orang lain


Jangan ragu mendelegasikan tugas yang kita tidak sanggup selesaikan sendiri, atau minimal berkoordinasi agar pekerjaan bisa selesai lebih efisien. Sedapat mungkin delegasikan tugas yang bisa memberikan manfaat atau nilai tambah bagi orang lain, dengan tetap memperhitungkan kapasitas orang tersebut. Akan lebih baik jika hal ini sudah kita antisipasi lebih awal pada saat membuat perencanaan, agar tidak membebani orang lain di tengah proses kerjanya.


f. Gunakan waktu seoptimal mungkin


Walaupun sudah membuat rencana dan skala prioritas secara mendetil, kedisiplinan tetap menjadi faktor terpenting untuk menuntaskan suatu pekerjaan. Hindari menunda pengerjaan tugas, dan berusaha lebih cepat bertindak. Dengan makin beragamnya beban kerja, kita harus makin pandai menjaga atau meningkatkan motivasi kerja.


g. Koordinasi intensif dengan rekan kerja


Komunikasi juga penting untuk menghindari situasi overlapping dalam menjalankan tugas yang bermacam-macam. Selain ditegaskan dalam komitmen di awal, koordinasi dan proses monitoring harus tetap berjalan agar tidak terjadi saling menyalahkan, karena bisa berakibat pekerjaan tidak terselesaikan pada waktunya. Selain itu, kondisi ini bisa berdampak pada iklim kerja kelompok.


h. Minta feedback dari atasan & rekan kerja


Setelah kita berusaha menyelesaikan satu pekerjaan, mintalah masukan atau penilaian dari atasan atau rekan kerja terkait. Hal ini penting untuk mengetahui apakah kita sudah mendapat manfaat dari tugas-tugas tersebut, ? Apakah ada kemajuan dalam hal kinerja atau kompetensi diri ? Apakah yang masih harus kita perbaiki ? Intinya, selain untuk mendapatkan pengakuan, kita bisa menilai proses belajar selama ini dan mencermatinya sebagai antisipasi di waktu mendatang.


Perlu Berpikir dan Bertindak Secara Bijak


Seberapapun beban kerja yang kita miliki, kita harus bisa mengenali ambisi kita, kemampuan dan kondisi yang menghambat maupun menunjang, sehingga pada akhirnya segala upaya yang kita lakukan bisa berhasil optimal. Ambisi yang besar harus diimbangi dengan kesadaran bahwa kita memang sanggup menjalankannya. Kesadaran di sini tentunya dengan memperhitungkan kemampuan kita sendiri, motivasi, faktor lingkungan, serta segala konsekuensi yang mungkin terjadi (baik positif maupun negatif).


Setelah memiliki sasaran yang sudah diperhitungkan secara realistis, barulah kita mengatur langkah pencapaiannya dengan program yang jelas. Setiap usaha yang kita canangkan seharusnya sudah diantisipasi dengan baik, sehingga bisa meminimalkan hambatan dan memudahkan kita tampil seoptimal mungkin.


Yang tidak kalah penting, menjaga motivasi yang penuh untuk mewujdukan setiap sasaran yang ada. Terkadang semangat kita muncul di awal namun mengendur di tengah tugas, terlebih jika situasi semakin sulit. Tetaplah berpikir secara tenang dan rasional, kembalikan kepada sasaran semula mengapa kita mau menjalankan semua ini. Evaluasi diri perlu dilakukan sejalan dengan proses kerja, dan bukan hanya di akhir. Dengan demikian kita akan tetap terbuka dan siap menghadapi kesulitan yang lebih besar.